• Aku balada yang kalah

    Pejamkan mata,
    Kau takbiarkan
    sedihku menjadi
    tangis,
    Meraih harapan
    karena,
    Sayangmu
    selimut yang menentramkan
    Tak ada rangkaian
    kata yang
    mempesona
    Kata-kataku,
    tenggelam dalam dekapmu
    Naik ke langit berjumpitan di awan
    Pikiranku bising oleh rencana-rencana dan janji kosong
    Sekali waktu setapak di hapus dan disembunyikan semak-perdu
    Terlunta-lunta tak tahu harus bagaimana
    Tentang kutuk yang ku derita
    Di sini bidadari malam mengurungku
    Mukaku terbakar karena api dalam darahmu
    Ini hanya bulan,
    Berlumur lumpur
    Ia hanya lumpur
    dalam hening kuburan
    Sampai ku memohon diselamatkan dari haru biru,
    Sampai yang biru kembali hijau berkat kuning itu,
    Sampai kutahu kau tak menginginkanku
    dan sampai malam menegurku



    Kudengar derit derita,
    jerit sakit,
    ringik rindu, sengal ajal nan kekal
    Berdenyar didera duka,
    Bunti-bunyi ganjil itu menyeru namamu
    Bunyi-bunyi ganjil itu
    melawan arus waktu yang menderas
    Menggerus mimpi-mimpiku
    Atau raung rindu dari ruang gelap tubuh,
    tak tersentuh
    Di setiap sudut cinta
    Dari rindu,
    hari-hariku dipenuhi suara-suara tak bergetar
    Seperti kemarin…
    Lilin tua basah dalam hati hangat sampai ke sumsum
    Menggarit luka langit
    Langit, hamparan biru tempat awan berlari
    Telah merampasnya,
    terusir
    entah kemana
    Bersama judul tulisan-tulisan tentang mimpi yang
    semakin kabur,
    Tak usah kembali sebab surgaku tak seperti diceritakan dalam kitab
    Penuh kutuk dan sabda nan keji
    Doa tanpa arti
    Menembus igauan cahaya yang gelisah








    Dua mata,
    Basah di dasar kolam
    Seperti sampan hancur di dalam dada
    Kuledakkan amarah beku yang mengeras dalam lemari es
    Jiwaku dikutuk kebenaran paratamak
    Walau dengan sepenuh daya
    Aku tak sanggup sebut namanya
    Tapi aku menunggu,
    Menunggu kisahmu
    Selembar kertas yang belum bertuliskan
    Meski sudah terlanjur tercatat sebelum sempat diucapkan
    Hanya selintas,
    dan setiap kali terlepas, akupun segera merasa gerah
    Tak perlu memejamkan mata
    Barangkali,
    aku telah hampir menyerah…

0 komentar: